Rabu, 26 Desember 2012

PTK


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kita pahami bahwa keberhasilan proses pembelajaran merupakan muara dari seluruh aktivitas yang dilakukan guru dan siswa secara bersungguh-sungguh telah berupaya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, namun masalah-masalah belajar tetap akan dijumpai guru. Masalah belajar dapat terjadi pada waktu sebelum belajar, selama proses belajar, dan sesudah belajar.
Masalah belajar yang terjadi selama proses belajar salah satunya berhubungan dengan rasa percaya diri. Rasa percaya diri merupakan salah satu kondisi psikologis seseorang yang berpengaruh terhaap aktivitas fisik dan mental dalam proses pembelajaran. Rasa percaya diri pada umumnya muncul ketika seseorang akan melakukan atau terlibat didalam suatu aktivitas tertentu dimana pikirannya terarah untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkannya. Dari dimensi perkembangan, rasa percaya diri dapat tumbuh dengan sehat bilamana ada pengakuan dari lingkungan. Itulah sebabnya, didalam proses pendidikan dan pembelajaran baik lingkungan rumah tangga maupun disekolah, orang tua atau guru hendaknya menerapkan prinsip-prinsip pedagogis secara tepat terhadap anak.
Keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. Untuk dapat mengembangkan model pembelajaran yang efektif maka setiap guru harus memiliki pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara pengimplementasian model-model tersebut dalam proses pembelajaran.  Atas dasar tersebut di atas maka perlu dilihat bagaimana pengaruh model pembelajaran personal terhadap rasa percaya diri siswa.




1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana cara meningkatakan rasa percaya diri siswa dalam proses pembelajaran ?
2.      Mengapa kurangnya rasa percaya diri membuat siswa tidak dapat mengeksplorasikan kemampuannya ?
3.      Apa yang membuat siswa takut akan hal-hal yang baru ?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui bagaimana pengaruh model pembelajaran personal terhadap rasa percaya diri.
2.      Mengetahui bagaimana cara meningkatkan rasa percaya diri dan akibat yang terjadi kana kurangnya percaya diri.

1.4  Manfaat Penulisan
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada guru agar dapat dijadikan acuan dalam menghadapi masalah-masalah belajar yang dihadapi siswa, khususnya yang berhubungan dengan rasa percaya diri. Manfaat lainnya adalah dengan penilitian ini diharapkan siswa dapat memahami pentingnya rasa percaya diri sehingga siswa dapat mengeksploitasikan kemampuannya.











BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1     RASA PERCAYA DIRI
2.1.1        Pengertian Rasa Percaya Diri
Berbagai pengertian tentang rasa Percaya Diri telah banyak diungkapkan para ahli.Sigmund Fred seorang ahli Psikologi terkenal mengungkapkan bahwa Rasa percaya diri merupakan suatu tingkatan rasa sugesti tertentu yang berkembang dalam diri seseorang sehingga yakin dalam berbuat sesuatu. Pengertian kepercayaan diri yang dikemukakan rakhmat (2000) adalah bahwa percaya diri diartikan sebagai suatu kepercayaan terhadap diri sendiri yang dimiliki setiap individu dalam kehidupannya,serta bagaimana individu tersebut memandang dirinya secara utuh mengacu pada konsep diri.lebih jauh Saranson (1966) mengemukakan bahwa rasa percaya diri merupakan fungsi langsung dari interpretasi seseorang terhadap kemampuannya.Bandura (dalam Saranson,1993) memberikan pengertian tentang percaya diri sebagai suatu perasaan yang berisi kekuatan,kemampuan dan keterampilan untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu yang dilandasi untuk sukses.
Susarsono (dalam Susiana ,2007) menyatakan bahwa percaya diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas/pekerjaannya.Angelis (Dalam Lasitosaris,2007),menyatakan bahwa percaya diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapai dengan berbuat sesuatu.Menurut Hakim (Dalam Lasitosari.2007) rasa percaya diri adalah suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya.Naurah (2008) menyatakan bahwa percaya diri merupakan salah satu komponen dalam konsep diri.tiga konsep tersebut yaitu citra diri,harga diri,dan kepercayaan diri.
Mc Clelland (1987) yang menyatakan bahwa percaya diri merupakan kontrol intrrnal,perasaan seseorang akan adanya kekuatan dalam dirinya,kesadaran akan kemampuan-kemampuannya dan bertanggung jawab terhadap keputusan-keputusan yang telah ditetapkan. kepercayaan diri merupakan bagian dari kepribadian manusia yang terbentuk ataupun  berkembang melalui proses belajar secara individual maupun sosial (Burns.1979).sejalan dengan pernyataan tersebut,Walgito (1993),menyatakan bahwa percaya diri sebagai salah satu aspek kepribadianyang terbentuk melalui interaksi individu dengan lingkungannya,khususnya lingkungan sosial.
Erik Erikson dalam Vander Zender,dkk (dalam ubaydillah,2009) menyatakan bahwa percaya diri perlu dilatih sejak anak mengenal dunia di luar kandungan atau sejak usia dini.dengan beranjaknya usia,melalui adaptatifnya secara perlahan dan bertahap memupuk kepercayaan dirinya melalui berbagai eksperiensi dan eksplorasi.masih menurut Erikson,orang tua yang sanggup memberikan kasih sayang dan rasa aman,akan memupuk kepercayaan diri anak.kasih sayang dan rasa aman akan menancapkan kesimpulan positif tentang hidup dalam pikirannya.
Dalam penelitian ini penulus mengambil satu engertian tentang percaya diri, yaitu pengertian dari Lauster (1978) yang menyatakan bahwa percaya diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemauan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan –tindakannya,dapat merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang disukainya,bertanggung jawab atas perbuatannya,hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain,dapat menerima dan menghargai orang lain,memiliki dorongan untuk berprestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangannya.

2.1.2        Upaya Untuk  Meningkatkan Rasa  Percaya Diri
Percaya diri terbentuk melalui proses perkembangan manusia pada umumnya, khususnya dalam interaksi dengan lingkungan (Walgito, 1993). Menurut saranso (1993) percaya diri terbentuk dan  berkembang melalui proses belajar secara individual maupun  sosial.
Berdasarkan pernyataan diatas, maka upaya-upaya meningkatkan percaya diri hendaknya diciptakan melalui interaksi dengan lingkungan. Lngkungan yang dimaksud adalah lingkungan sosial tempat individual beraktivitas.
Percaya diri adalah bagian dari alam bawah sadar dan tidak terpengaruh oleh argumentasi yang rasional. Ia hanya terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat emosional dan perasaan. Maka untuk membangun percaya diri diperlukan alat yang sama, yaitu emosi, perasaan, dan imajinasi.


2.1.3        Dorongan Untuk Meningkatkan Percaya Diri
Tentang perlunya memberikan dorongan positif untuk meningkatkan percaya diri, khususnya percaya diri siswa, artikel lain (www.suargut.co.cc) mengungkapkan bahwa untuk menanamkan “self-esteem” pada siswa. Nasehat yang sering kita dengar/baca adalah dengan memberikan banyak pujian pada siswa. Dengan pujian, siwa akan merasakan puas pada dirinya sendiri yang menjadikannya lebih percaya diri, memiliki motivasi yang tinggi dan membantunya mencapai sukses.

2.1.4        Penyebab Timbulnya Kurang Percaya Diri
Sunarman (2008) menyatakan bahwa kelemahan yang ada pada diri seseorang, seringkali menjadi penyebab hilangnya rasa percaya diri tiba-tiba. Misal, penampilan yang buruk, cacat fisik, dan latar belakang kehidupan sejak kecil. Kelemahan atau kekurangan itu terbentuk oleh kehidupan keluarga yang  melatarbelakanginya.
Perilaku siswa yang ekspresif, selalu berpikir positif, tidak curiga kepada teman guru, mereka mudah sekali bergaul dan berkomunikasi sekalipun dengan teman yang baru ditemani, bahkan dengan siswa yang berlainan ras atau bangsa. Lingkungan mulai memberikan reaksi yang mendepresi, sehingga lama kelamaan pengalamanini akan berkumulasi pada diri anak membentuk konsep dirinya yang negatif. Konsep diri untuk menyakini atas potensi dan kompetensinya, kurang berani untuk menyartakan bahwa dirinya mampu. Dengan kondisi demikian, maka individu tidak  dapat mencapai potensinya secara iptimal

2.2              MODEL PEMBELAJARAN
Rasa percaya diri merupakan salah satu masalah belajar.secara sederhana masalah belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menghambat tercapainya tujuan belajar.dilihat dari tahapannya,masalah belajar dapat terjadi pada waktu sebelum belajar,selama proses belajar dan sesudah belajar.salah satu masalah belajar yang terjadi selama proses belajar yaitu,Rasa percaya diri.
Untuk mengatasi masalah belajar,guru perlu mengadakan pendekatan pribadi disamping pendekatan instriksional dalam berbagai bentuk yang memungkinkan guru dapat lebih mengenal dan memahami siswa serta masalah belajar.seluruh aktivitas pembeljaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru harus bermuara pada terjadinya proses belajar siswa.dalam hal ini model-model pembelajaran yang dipilih dan dikembangkan guru hendaknya dapat mendorong siswa untuk belajar dengan mendayagunakan potensi yang mereka miliki secara optimal.
Dalam sebuah situs tentang pembelajaran Huitt (2003),mengemukakan rasionalitas pengembangan model pembelajaran.untuk memperkokoh pemahaman kita tentang model-model pembelajaran,perlu dikaji kembali beberapa asumsi tentang belajar,yaitu;
             1.     Setiap individu pada setiap tingkatan usia memiliki potensi untuk belajar,namun dalam prosesnya,keberhasilan antar individu akan beragam;ada yang cepat dan ada yang lambat bergantung pada motivasi dan cara yang digunakan.
             2.     Tiap individu mengalami proses perubahan dimana situasi belajar yang baru sangat mungkin menimbulkan keraguan, kebingngan bahkan ketidaksenangan,
tetapi dipihak lain banyak juga yang menyenangkan (Mangkuprawira,2008:1).
Guru dituntut untuk memiliki pemahaman yang komprehensip serta mampu mengambil keputusan rasional kapan waktu yang tepat untuk menerapkan salah satu atau beberapa strategi secara efektif (Killen,1998).kecermatan guru didalam menentukan model-model  pembelajaran menjadi semakin penting,karena pembelajaran adalah suatu proses yang kompleks yang didalamnya melibatkan berbagai unsur yang dinamis.Huitt (2003:4) mengingatkan meskipun keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dikelas merupakan hal yang sangat penting,akan tetapi guru harus mengontrol aktivitas perilaku siswa dikelas (classroom management activities), mencermati perbedaan-perbedaan antar siswa serta  karakteristik  masing-masing individu.

Lieach dan Scott (1995),mengingatkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam memilih dan menentukan model pembelajaran dengan mengkaji kemana pembelajaran akan di titikberatkan,apakah pada outcome,proses atau content.modelpembelajaran juga dapat dimaknai sebagai perangkat rencana atau pola yang dapat dipergunakan untuk mrancang bahan-bahan pembelajaran serta membimbing aktivitas pembelajaran dikelas atau ditempat-tempat lain yang melaksanakan aktivitas-aktivitas pembelajaran.
Brady (1985:7),mengermukakan bahwa model pembelajaran dapat diartikan sebagai blueprint yang dapat dipergunakan untuk membimbing guru didalam mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran.
Ada sejumlah pandangan atau pendapat berkenaan dengan model pembelajaran yang perlu kita kaji untuk memperluas pemahaman dan wawasan kita sehinggga kita dapat semakin fleksibel dalam menentukan salah satu atau beberapa model pembelajaran yang tepat.beberapa model pembelajaran tersebut dikemukakan oleh Lapp,Bender,Ellenwood,dan John (1975).
Joyce,Weil,dan Calhoun (2000) mendeskripsikan 4 kategori model pembelajaran,yaitu kelompok model sosial,kelompok pengolahan informasi,kelompok model personal,dan kelompok model sistem perilaku.
Dalam penelitian ini,untuk mengatasi masalah belajar yang berhubungan dengan rasa percaya diri dapat menggunakan model pembelajaran personal.model pembelajaran personal dikembangkan dengan beberapa tujuan esensial;yaitu
      1.            Untuk mengarahkan  perkembangan dan kesehatan mental dan emosional melalui pengembangan rasa percaya diri dan pandangan realistik tentang dirinya,dengan membangun rasa empati dirinya terhadap orang lain,
      2.            Mengembangkan keseimbangan prosesv pendidikan beranjak dari kebutuhan dan aspirasi siswa sendiri,menempatkan siswa sebagai partner di dalam menentukan apa yang ia pelajari dan bagaimana ia mempelajarinya,
      3.            Menegembangkan aspek-aspek khusus kemampuan berpikir kualitatif,seperti kreativitas,ekspresi-ekspresi pribadi.
Model pembelajaran personal bertitik tolak dari teori Humanistik,yaitu berorientasi terhadap pengembangan diri individu.model ini menjadikan siswa yang mampu membentuk hubungan yang harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif.
Model pembelajaran personal ini meliputi strategi pembelajaran sebagai berikut:
        1.            Pembelajaran non-Direktif  yang dikemukakan oleh Carl Rogers,tujuannya yaitu sebagai penekanan pada pembentukan kemampuan untuk perkembangan pribadi dalam arti kesadaran diri,pemahaman diri,kemandirian,dan konsep diri.
        2.            Latihan kesadaran yang dikemukakan oleh Fritz Perls dan Willian Schultz,tujuannya untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk eksplorasi diri dan kesadaran diri.banyak menekankan pada perkembangan kesadaran dan pemahaman antarpribadi.
        3.            Sinektik yang dikemukakan oleh William Gordon,tujuannya untuk perkembangan pribadi dalam kreativitas dan pemecahan masalah kreatif.
        4.            Sistem-sistem Konseptual yang dikemukakan oleh David Hunt,tujuannya untuk meningkatkan kekompleksan dan keluwesan pribadi.
        5.            Pertemuan kelas yag dikemukakan oleh William Glasser,tujuannya untuk perkembanga pemahaman diri dan tangggung jawab kepada diri semdiri dan kelompok sosial.
Terdapat beberapa model pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong peningkatan integritas kepribadian,terutama rasa percaya diri siswa yang merupakan bagian dari model pembelajarn personal.model pembelajarn personal ini meliputi;
             1.     Model Latihan Kesadaran (Ewareness Training Models)
Model latihan kesadaran adalah model pembelajaran yang diarahkan untuk memperluas kesadaran diri dan kemampuan untuk merasa dan berpikir.model ini berisikan rangkaian kegiatan yang dapat mendorong timbulnya refleksi hubungan antar individu,citra diri atau “self immage”,eksperimentasi dan penampilan diri.
Menurut Willian Schultz terdapat 4 tipe perkembangan yang perlu direalisasikan dalam diri seseorang yang penuh dengan potensi.fungsi yang pertama yaitu potensi jasmani.fungsi yang kedua yaitu potensi pribadi termasuk pengetahuan dan pengalaman,perkembangan pikiran yang logik dan berpikir kreatif.fungsi ketiga adalah perkembangan interpersonal merupakan fokus pengembangan melalui model latihan kesadaran ini.salah satu penghambat di dalam pemenuhan kebahagiaan dan berbagai ubungan interpersonal adalah ketidakmampuan seseorang menjadi sadar terhadap kebutuhan dan perasaannya sendiri.fungsi ke empat adalah berbagai hubungan individual terhadap berbagai institusi masyarakat,berbagai organisasi sosial dan kebudayaan.
Model latihan kesadaran ini mempunyai berbagai bentuk.hal ini dapat dilakukan dari seorang pemimpin ke orang lain,atau darai satu kelompok lain.meskipun berbagai ragam bentuk latihan kesadaran ini,namun di dalam pelaksanaannya terdapat kesamaan–kesamaan.di dala proses pembelajaran,latihan kesadran dimulai engan pengaturan para siswa melalui berbagai bentuk arahan dari guru.
Hal yang prinsip bahwa model ini didesain untuk membantu siswa agar lebih dapat merealisasikan diri sepenuhnya.tujuan utamanya adalah membuka berbagai kemungkinan tumbuhnya kesadaran terhadap diri dan hubungan interpersonal.
      2.            Model Pertemuan Kelas(Classroom meeting)
William Glaser mengadaptasi model konseling untuk merancang model ini dengan  maksud membantu para siswa memikul tanggung jawab atas perilakunya dan tanggung jawab untuk lingkungan sosialnya sehingga dapat dipergunakan dalam lingkungan kelas.Di dalam kelas,model ini diwujudkan seperti layaknya rapat atau pertemuan dimana kelompok bertangggung jawab untuk membangun sistem sosila yang sesuia untuk melaksanakan tugas-tugas akademis dengan mempertimbangkan unsur perbedaan perseorangan dengan tetap menghargai tugas-tugas bersama dan hak-hak orang lain. 
Terdapat beberapa bentuk pertemuan kelas,yaitu;
a)      Pertemuan untuk memecahkna masalah sosial.
Dalam kegiatan ini biasanya siswa mencoba membagi tanggung jawab,belajar serta bertindak dengan cara memecahkan masalah mereka di kelas.
b)      Pertemuan yang tidak hanya terbatas bagi siswa,dimana di dalamnya para peserta terlibat di dalam mendiskusikan berbagai masalah kehidupan sosial.
c)      Pertemuan sebagaimana bentuk pertama dan kedua,namun para siswa terikat untuk membahas  sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal yang sedang dipelajari di dalam kelas.
Dari berbagai model-model yang terdapat dalam model pembelajaran personal tersebut,guru diharapkan dapat mengembangkan model pembelajarn tersebut secara efektif.model pembelajarn yang efektif memiliki keterkaitan denagn tingkat pemahamn guru terhadap perkembangan dan kondisi siswa-siswa di kelas.


















BAB III
PROSEDUR PENELITIAN

3.1     TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA N 1 LALAN,Kabupaten Musi Banyuasin.subjek dalam penelitian ini adalah kelas X1.penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012 yaitu,bulan Maret S/d Mei 2012.

3.2     POPULASI DAN SAMPEL
3.2.1        POPULASI
Menurut Hasan (2002:84) “populasi (universe) adalah totalitas dalam semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu,jelas dan lengkap yang akan di teliti (bahan penelitian)”.Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto,2002:108),pada penelitian ini populasi yang diambil adalah seluruh siswa kelas X tahun pelajaran 2011/2012.dengan  jumlah siswa sebanyak 105 orang.


3.2.2        SAMPEL
Pada penelitian ini sampel diambil sebanyak 1 kelas yaitu kelas X1 .tahun pelajaran 2011/2012 dengan jumlah siswa sebanyak 35 orang,terdiri dari 20 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki.











BAB IV
PENUTUP

4.1  KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini,disimpulkan bahwa Rasa percaya diri sangatlah penting.telah banyak bukti yang memperkuat bahwa percaya diri seseorang bukan karena bakat (dalam arti keunikan khusus yang berbeda antara satu dengan yang lain),melainkan sebuah kualitas mental (dalam arti pencapaian yang dihasilkan dalam proses pendidikan).jika anak dibesarkan dalam suasana penuh dengan ejekan,maka kelak anak tersebut akan dicetak untuk sering merasa minder,demikian menuru Dorothy Law Nolte.sebaliknya apabila anak dibesarkan dalam suasana semangat dan berjiwa besar,maka anak tersebut akan memiliki rasa kepercayaan diri dengan baik.

4.2  SARAN
1.      Hendaknya siswa harus meningkatkan percaya diri mereka, karena percaya diri sanagat penting terhadap hasil belajar siswa.
2.      Hendaknya guru harus berupaya bagaimana cara meningkatkan rasa percaya diri siswa, salah satunya yaitu melalui metode pembelajaran yang efisien.















DAFTAR PUSTAKA

Aunurrahman.2010.Belajar dan Pembelajaran.Alfabeta:Bandung.
Rusman.2010.Model-Model Pembalajaran.PT. Raja Grafindo:Jakarta.
Anneahira.2009.Pengertian Percaya diri.Tersedia           :  http://www.anneahira.com/pengertian _percaya_diri.htm.